SUMATERA BARAT — Regulasi pembatasan usia media sosial di Australia menunjukkan hasil yang beragam pada evaluasi tiga bulan pertama. Laporan dari eSafety Commissioner, regulator keamanan daring Australia, mengungkapkan bahwa meski terjadi penurunan kepemilikan akun, anak-anak masih menemukan celah untuk mengakses layanan tersebut.
Angka Kepemilikan Akun Turun, Akses Konten Tetap Tinggi
Studi yang melibatkan 4.100 anak dan keluarga ini mencatat penurunan kepemilikan akun di platform berbatas usia dari 52,4 persen menjadi 42,1 persen. Reddit menjadi satu-satunya platform yang angkanya stagnan di 3,6 persen, sementara Threads dan Kick justru mencatat kenaikan kecil masing-masing menjadi 2 persen dan 0,6 persen.
Fakta menariknya, 81,5 persen anak usia 10-15 tahun masih mengakses layanan media sosial tanpa memiliki akun. YouTube menjadi platform paling populer dengan 73,6 persen anak mengaksesnya dalam sebulan terakhir, disusul TikTok, Snapchat, dan Instagram yang masing-masing digunakan oleh setidaknya seperempat responden.
Platform yang Tidak Diatur Justru Naik
Larangan ini mendorong pergeseran ke platform yang belum tercakup regulasi. Pinterest mencatat kenaikan signifikan dari 16,6 persen menjadi 21,8 persen, sementara BeReal melonjak dari 0,2 persen menjadi 2,2 persen. Mastodon yang sebelumnya tidak tercatat kini digunakan oleh 0,7 persen anak.
Menariknya, anak-anak juga mengalihkan aktivitas mereka ke layanan pesan instan dan game. Penggunaan layanan pesan naik dari 40,5 persen menjadi 52,3 persen, dan bermain game naik dari 26,4 persen menjadi 29 persen. Tidak ada perubahan signifikan dalam frekuensi penggunaan AI chatbot.
Celah Verifikasi Usia Masih Mudah Ditembus
Separuh responden mengaku platform yang mereka gunakan belum pernah meminta verifikasi usia. Sekitar 37 persen anak mengaku mencantumkan usia di atas 16 tahun, 18,2 persen mengatakan platform salah membaca usia mereka, dan 11 persen dibantu orang tua untuk menembus batasan. Hanya 7,4 persen yang menggunakan VPN.
"Reformasi kompleks semacam ini pada dasarnya membongkar 20 tahun penetrasi media sosial dan membutuhkan waktu. Dampaknya tidak bisa diukur dalam hitungan minggu atau bulan, melainkan generasi," ujar Julie Inman Grant, eSafety Commissioner, dalam blog resminya.
Dampak Psikologis dan Perubahan Perilaku
Ada sisi positif yang tercatat. Anak-anak yang merasa takut ketinggalan (FOMO) karena tidak punya media sosial turun dari 43,3 persen menjadi 36,3 persen. Sebagian responden juga melaporkan merasa lebih aman daring dan hubungan mereka dengan keluarga membaik.
Namun, kurang dari 9 persen anak mengaku kesulitan berkomunikasi dengan teman sebaya atau merasa terputus secara sosial. Yang memprihatinkan, kesadaran orang tua terhadap aktivitas daring anak justru menurun, terutama pada anak perempuan dan kelompok usia 10-12 tahun.
Grant menambahkan bahwa data ini menunjukkan penyedia platform belum efektif mencegah anak di bawah 16 tahun membuat akun. Australia baru saja mengumumkan sanksi lebih berat bagi platform yang melanggar aturan ini.