PADANG — Puluhan guru sekolah dasar di Nagari Jaho, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, kini dibekali keterampilan khusus untuk mengenali anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak dini. Program ini digagas oleh Departemen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP) melalui skema Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN).
Ketua Tim Pengabdian, Endang Sri Handayani, M.Pd., mengatakan masih banyak anak dengan kebutuhan belajar khusus yang belum teridentifikasi secara tepat di sekolah. Akibatnya, mereka belum mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai.
"Upaya mewujudkan pendidikan inklusif tidak hanya bergantung pada ketersediaan kebijakan, tetapi juga pada kesiapan guru dalam mengenali kebutuhan belajar setiap peserta didik," kata Endang di Padang, Selasa.
Dari Teori ke Praktik Simulasi Identifikasi
Pada hari pertama, peserta mendapatkan tiga materi utama: Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus oleh Yosa Yulia Nasri, M.Pd., Pendidikan Inklusif oleh Dr. Johandri Taufan, M.Pd., serta Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus oleh Dr. Rila Muspita, M.Pd.
Namun, pelatihan tidak berhenti pada penyampaian teori. Para guru langsung mempraktikkan simulasi identifikasi terhadap peserta didik menggunakan instrumen yang telah dipelajari. Hasil simulasi kemudian didiskusikan dan diinterpretasikan bersama instruktur.
Pendekatan berbasis praktik ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri guru dalam melakukan identifikasi awal, sebelum peserta didik memperoleh layanan lanjutan sesuai kebutuhannya.
Kolaborasi Nagari dan Kampus untuk Pendidikan Inklusif
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN), sebuah program kolaboratif antara Departemen PLB UNP dengan Pemerintah Nagari Jaho. Program ini bertujuan menghadirkan solusi berbasis keilmuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan.
Acara dibuka oleh Wali Nagari Jaho dan dihadiri oleh Kepala Departemen PLB FIP UNP Dr. Elsa Efrina, M.Pd., serta Kepala SD Negeri 04 Jaho Elma Fifiyanti, S.Pd., SD. Antusiasme peserta terlihat sejak awal pembukaan.
"Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang. Tugas guru bukan sekadar mengajar, tetapi juga memahami bagaimana setiap anak belajar," ujar Endang. "Ketika guru mampu mengidentifikasi kebutuhan peserta didik dengan tepat, maka layanan pendidikan yang diberikan akan lebih adil, efektif, dan bermakna."
Dukung SDGs dan Wujudkan UNP Berdampak
Kegiatan pengabdian ini juga menjadi wujud implementasi UNP Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi hadir secara nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Program ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP melalui Kontrak Pengabdian Nomor: 2519/UN35.15/PM/2026. Tim pengabdian melibatkan delapan dosen, termasuk Dr. Rahmahtrisilvia, M.Pd., Antoni Tsaputra, Ph.D., dan Arisul Mahdi, M.Pd.
Endang berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, dan sekolah dapat terus diperkuat. "Pendidikan inklusif hanya dapat berjalan optimal apabila guru memiliki kompetensi untuk memahami keberagaman karakteristik peserta didik," pungkasnya.