PADANG PARIAMAN — Darmawati (56) akhirnya bisa menghela napas lega. Setelah bertahun-tahun hidup tanpa jaminan kesehatan dan harus merogoh kocek Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per bulan untuk pengobatan Diabetes Melitus Tipe 2 dan Tuberkulosis, ia kini resmi menjadi peserta program JKN yang iurannya ditanggung penuh oleh perantau.
Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai penjemur biji pinang ini mengaku selama ini kerap menunda berobat ke Puskesmas Lubuk Alung ketika uang hasil menjual pinang tak mencukupi. Harga pinang kering yang hanya Rp12 ribu per kilogram membuatnya harus berpikir dua kali untuk memenuhi kebutuhan pokok sekaligus biaya kesehatan.
"Senang sekali saya sekarang bisa terdaftar jadi peserta BPJS Kesehatan. Rasanya lega, jadi bisa berobat tanpa memikirkan biaya," ujarnya sembari menahan haru.
Gotong Royong Perantau untuk Warga Kampung
Program ini digagas Pemerintah Nagari Tigo Koto Aur Malintang Selatan bersama BPJS Kesehatan dengan mengadopsi kearifan lokal Minangkabau. "Badoncek", yang berarti mengumpulkan dana bersama, menjadi medium bagi para perantau untuk menyisihkan rezeki bagi kerabat di kampung halaman.
Wali Nagari Tigo Koto Aur Malintang Selatan, Era Jaya, mengatakan inisiatif ini berawal dari temuan sejumlah warga yang kesulitan membayar biaya pengobatan di rumah sakit. Bahkan, pemerintah nagari sempat kesulitan membantu memulangkan jenazah warganya yang meninggal di rumah sakit karena biaya perawatan belum lunas.
Dari 100 warga yang dibantu, 50 orang iurannya ditanggung melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) nagari, sementara sisanya dibayar oleh seorang perantau bernama Azwar Wahid.
Antusiasme Tinggi, Target Peserta Bakal Bertambah
Era Jaya menyebut antusiasme warga dan para perantau sangat tinggi. Beberapa perantau lain dikabarkan siap membantu memperluas cakupan kepesertaan di nagari tersebut.
"Kami juga menghubungi perantau lain, perantau lain pun siap membantu," katanya.
Bagi Darmawati, kepastian ini terasa lebih bermakna. Ia masih menanggung utang Rp2 juta dari masa pengobatan sebelumnya saat pulang merantau dari Dumai, Riau. Kini, dengan kepesertaan JKN yang aktif, ia berharap bisa fokus memulihkan kondisi tubuh tanpa dibayangi kekhawatiran biaya.
Ia pun berpesan agar warga lain yang belum terdaftar segera mengurus kepesertaan melalui pemerintah nagari atau kantor BPJS Kesehatan terdekat. "Yang penting uangnya terkumpul dulu walaupun sedikit," katanya, mengingatkan bahwa kesehatan adalah investasi yang tak bisa ditunda.