Pencarian

Pertamina Patra Niaga Kuasai 80% Pasokan LPG Nasional, KPPU Selidiki Dugaan Monopoli

Selasa, 14 Juli 2026 • 08:29:31 WIB
Pertamina Patra Niaga Kuasai 80% Pasokan LPG Nasional, KPPU Selidiki Dugaan Monopoli
Pangsa pasar PT Pertamina Patra Niaga mencapai 80 persen dari total pasokan LPG nasional. (Foto: Dok. Pertamina)

SUMATERA BARAT — Bisnis LPG di Indonesia dikuasai oleh satu pemain utama: PT Pertamina Patra Niaga (PPN). Subholding Commercial & Trading Pertamina ini mengelola pasokan LPG subsidi (tabung melon 3 kg) dan nonsubsidi (BrightGas), serta memasok gas curah ke merek swasta seperti BlueGas dan PrimeGas. Data menunjukkan, pangsa pasarnya mencapai 80% dari total kebutuhan nasional.

KPPU Buka Investigasi Margin LPG Nonsubsidi

Dominasi Pertamina Patra Niaga mulai mendapat sorotan regulator. Pada Maret 2025, KPPU menyelidiki dugaan monopoli di pasar LPG nonsubsidi. Lembaga itu menduga harga LPG nonsubsidi dijual dengan margin keuntungan jauh lebih tinggi dibanding LPG subsidi, bahkan disebut menghasilkan laba sekitar 10 kali lebih besar atau mencapai sekitar Rp1,5 triliun.

KPPU menilai kondisi ini mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan LPG subsidi. Akibatnya, beban anggaran negara untuk subsidi semakin membengkak.

Produsen LPG Domestik: Pertagas hingga Swasta

Di sisi produksi, PT Pertamina Gas (Pertagas) menjadi produsen LPG terbesar di Indonesia, memasok gas bumi untuk jaringan Pertamina dan industri. Anak usaha Pertamina lainnya, PT Perta-Samtan Gas (PSG), mengoperasikan kilang LPG terbesar kedua setelah Kilang Balongan dan memasok sekitar 50% kebutuhan Sumatera Bagian Selatan.

PT Badak NGL, operator kilang LNG di Bontang, Kalimantan Timur, juga memproduksi LPG dari fasilitas pengolahan gas. Dari sektor swasta, PT ESSA Industries Indonesia Tbk mengoperasikan kilang LPG domestik terbesar milik swasta di Palembang dengan kapasitas 190 ton per hari. Sementara PT Arsynergy NiX Indonesia (ArsyGas) menjadi satu-satunya grup swasta nasional dengan rantai bisnis LPG terintegrasi, mulai dari kilang di Gresik hingga jaringan distribusi sendiri.

Indonesia Masih Bergantung pada Impor 75-80%

Meski memiliki sejumlah produsen dalam negeri, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan LPG sendiri. Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi LPG nasional pada 2024 mencapai sekitar 8,9 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,96 juta ton per tahun. Artinya, sekitar 75-80% kebutuhan masih dipenuhi dari impor, yang mencapai 7 juta ton per tahun.

Proyeksi konsumsi pada 2026 mendekati 10 juta ton. Dengan produksi yang stagnan, ketergantungan impor diprediksi terus meningkat. Impor LPG juga membuat pasokan dalam negeri sangat rentan terhadap fluktuasi harga energi internasional, nilai tukar rupiah, dan kondisi geopolitik global. Dalam bisnis impor ini, Pertamina Patra Niaga kembali menjadi pemain utama sebagai importir LPG terbesar.

Follow www.sumbaronline.co.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: trenasia.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks