SUMATERA BARAT — Pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen pasar global yang masih dibayangi kekuatan dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg, posisi tersebut turun dibandingkan penutupan Senin (17/8) yang berada di level Rp17.794 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga pukul 09.43 WIB, di mana rupiah tercatat di level Rp17.839 per dolar AS atau turun 41 poin dari posisi penutupan sebelumnya di sekitar Rp17.798 per dolar AS.
Perbedaan Data Antara Bloomberg, Refinitiv, dan Yahoo Finance
Data dari Refinitiv menunjukkan depresiasi yang lebih tipis, yakni 0,06% ke level Rp17.830 per dolar AS. Sementara itu, Yahoo Finance pada waktu yang sama mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.830 per dolar AS. Perbedaan kecil angka ini merupakan hal lumrah di pasar valuta asing karena perbedaan metode dan waktu pembaruan data antarpenyedia informasi.Sebelumnya, rupiah sempat mencatat penguatan pada perdagangan Senin (17/8) sebesar 0,16%. Bahkan pada Jumat (14/8/2026), mata uang Garuda ditutup menguat 0,22% ke level Rp17.820 per dolar AS. Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama, dan rupiah kembali menghadapi tekanan pada awal perdagangan hari ini.
Mata Uang Asia Lainnya Ikut Tertekan
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang utama Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini. Yen Jepang tercatat turun tipis 0,03%, yuan China melemah 0,04%, dan baht Thailand terkoreksi 0,05%. Kondisi ini mengindikasikan adanya faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan mata uang kawasan secara serentak.Tekanan terhadap mata uang Asia terjadi di tengah pasar yang masih mencermati arah kebijakan moneter AS dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Data ekonomi AS yang cenderung solid dalam beberapa pekan terakhir membuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed semakin menipis, sehingga mendukung penguatan dolar AS.