SUMATERA BARAT — Rencana ekspansi PT Vale Indonesia di kawasan Sorowako, Sulawesi Selatan, memasuki babak baru. Proyek Tanamalia, yang berada di dalam wilayah konsesi blok Sorowako, masih membutuhkan waktu panjang sebelum menghasilkan bijih nikel. Perusahaan menargetkan aktivitas tambang baru bisa dimulai pada 2029, atau sekitar lima tahun lagi.
Kepastian itu disampaikan langsung oleh jajaran direksi di Jakarta, Kamis (13/8). Budiawansyah, Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, menjelaskan bahwa hingga tahun 2027 perusahaan masih akan fokus pada tahap eksplorasi. "2027 tuh proses pendetailan eksplorasi ya, studi eksplorasi tahap 2 dan nanti ada pendetailan desain," kata Budi.
Proses Panjang Sebelum Menggali Bumi
Vale Indonesia tidak serta-merta langsung menambang ketika cadangan terbukti ada. Perusahaan menerapkan metode pengelolaan proyek yang disebut Front End Loading (FEL), sebuah panduan yang mengatur bagaimana sebuah proyek direncanakan secara matang. Metode ini mencakup aspek teknis, ekonomi, lingkungan, dan bisnis secara menyeluruh.
Tahapan FEL sendiri terbagi dalam tiga fase. FEL 1 berfokus pada kelayakan bisnis, FEL 2 pada pemilihan alternatif, dan FEL 3 pada rencana eksekusi. Saat ini, proyek Tanamalia berada di fase FEL 2, di mana perusahaan sedang mengumpulkan dan mengolah data kandungan nikel untuk memutuskan layak tidaknya proses penambangan dilanjutkan.
Budi menegaskan bahwa target 2029 tersebut masih berupa proyeksi perusahaan. "Ya estimasilah forecast kita 2029," ujarnya.
Belajar dari Risiko Sorowako dan Bahodopi
Lambatnya proses ini bukan tanpa alasan. Vale Indonesia mengaku ingin memastikan operasi tambang berjalan aman dan dampaknya terhadap lingkungan bisa diminimalkan. Sebelum memutuskan eksekusi, perusahaan wajib menuntaskan serangkaian kajian, mulai dari studi ekologi hingga studi kebencanaan di area tambang.
Pendekatan ini bukan hal baru bagi Vale. Perusahaan mengaku pengalaman di tambang Sorowako dan Bahodopi menjadi pelajaran penting. "Jadi harus clear, kita lakukan studi ekologi, kita lakukan studi kebencanaan di situ. Apa bedanya dengan Sorowako? Sama. Sorowako tuh lebih berisiko ya, studi kebencanaan segala macam kita lakukan, Bahodopi juga gitu ya, maturity risikonya kita evaluasi," jelas Budi.
Dengan segala proses kajian yang panjang ini, kehadiran tambang Tanamalia diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi Vale Indonesia setelah operasi di blok-blok yang ada saat ini. Namun, investor dan publik harus bersabar; kepastian produksi baru akan terlihat jelas setelah seluruh studi tuntas pada 2027 mendatang.