PADANG — Platform digital tidak hanya mengubah cara orang membaca, tetapi juga cara sastrawan menciptakan dan mendistribusikan karyanya. Hal ini menjadi sorotan utama dalam kuliah umum yang digelar Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (DBSID) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP), Jumat (31/7) di Auditorium FBS UNP.
Kepala DBSID FBS UNP, Dr. Zulfadhli, S.S., M.A., menyebut kegiatan ini dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa. Targetnya, mahasiswa mampu memahami relevansi dinamika sastra dunia terhadap posisi sastra Indonesia sebagai bagian dari warga sastra dunia.
Globalisasi dan Lahirnya Bentuk Sastra Baru
Pembicara yang dihadirkan adalah Ranofla Dianti Irwan, akademisi yang tengah menempuh studi di Hainan University, China. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa arus globalisasi dan kemajuan teknologi informasi telah membuka ruang interaksi yang kian luas antar-tradisi sastra dari berbagai negara.
“Berbagai bentuk perubahan tersebut menunjukkan bahwa karya sastra selalu hadir sebagai refleksi kondisi sosial, budaya, politik, dan perkembangan teknologi yang melingkupi kehidupan masyarakat. Perkembangan platform digital juga telah melahirkan bentuk-bentuk baru dalam penciptaan dan penyebaran karya sastra,” tambah Ranofla.
Menurutnya, mahasiswa dituntut memiliki perspektif global. Hal ini penting agar mereka mampu mengikuti laju perkembangan teori, kritik, dan praktik kesastraan kontemporer yang kini tidak lagi mengenal batas geografis.
Dekan FBS UNP: Sastra Indonesia Perlu Perspektif Global
Kegiatan yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa ini resmi dibuka oleh Dekan FBS Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Ermanto, S.Pd., M.Hum. Ia menekankan pentingnya pemahaman yang kompleks untuk memosisikan sastra Indonesia dalam peta sastra dunia (world literature).
“Melalui kegiatan kuliah umum ini, kita berharap mahasiswa semakin terbuka terhadap perkembangan kajian sastra dunia, mampu berpikir kritis terhadap berbagai fenomena sastra kontemporer, serta terdorong menghasilkan karya dan penelitian yang memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional,” tuturnya.
Prof. Ermanto menambahkan, agenda ini merupakan bagian dari upaya program studi untuk memperkuat atmosfer akademik. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperluas jejaring keilmuan di bidang bahasa, sastra, dan budaya di tingkat internasional.
Memperkuat Riset dan Jejaring Internasional
Hadirnya pembicara dari luar negeri dinilai menjadi langkah strategis bagi UNP. Selain memberikan wawasan baru bagi mahasiswa, forum ini membuka peluang kolaborasi riset dan publikasi ilmiah bersama universitas di kancah global.
Kuliah umum ini sekaligus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk melihat langsung bagaimana praktik kesastraan kontemporer berkembang di negara lain. Dengan bekal tersebut, diharapkan lahir peneliti-peneliti muda yang mampu membawa nama sastra Indonesia ke panggung dunia.