SUMATERA BARAT — Kebakaran yang meludeskan permukiman padat penduduk di Kebon Kosong, Kemayoran, pekan lalu memaksa ratusan warga bertahan di tenda darurat. Hingga Selasa siang, belum ada kepastian soal relokasi atau hunian sementara bagi para pengungsi.
Kondisi Pengungsian dan Kebutuhan Pokok
Di lokasi pengungsian, tenda berdiri di atas lahan kosong bekas bangunan yang ikut terbakar. Warga menggelar tikar dan kardus sebagai alas tidur. Bantuan logistik berupa makanan siap saji dan air mineral datang dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat.
Namun, kebutuhan pakaian layak, perlengkapan mandi, dan obat-obatan masih minim. Seorang warga, Siti (45), mengatakan ia dan tiga anaknya hanya membawa dokumen penting saat menyelamatkan diri. "Semua habis. Pakaian, tabungan, semuanya," katanya.
Warga Minta Kepastian Hunian Sementara
Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Jakarta Pusat soal relokasi. Warga berharap pemerintah segera menyediakan hunian sementara yang layak, bukan sekadar tenda pengungsian. "Kami takut tinggal di tenda terlalu lama. Apalagi musim hujan," ujar seorang pengurus RT setempat.
Beberapa warga memilih mengungsi ke rumah kerabat di luar kawasan Kebon Kosong. Namun, mayoritas tetap bertahan karena tidak memiliki sanak saudara yang bisa menampung.
Proses Pendataan dan Verifikasi Korban
Petugas dari kelurahan dan kecamatan masih melakukan pendataan jumlah korban terdampak. Data sementara mencatat 230 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Proses verifikasi diperlukan untuk menentukan bentuk bantuan dan skema relokasi.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan awal berupa tenda dan logistik. Namun, warga menunggu langkah konkret pemerintah daerah untuk memulihkan kehidupan mereka pascakebakaran.
Ancaman Krisis Kesehatan di Pengungsian
Kondisi tenda pengungsian yang padat dan minim sanitasi memicu kekhawatiran penyakit. Beberapa anak mulai mengalami batuk dan demam. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat sudah berjaga di lokasi, namun jumlah tenaga medis terbatas.
Warga berharap pemerintah tak hanya menyediakan tenda, tetapi juga fasilitas MCK darurat dan pasokan air bersih yang memadai. Tanpa itu, risiko penyebaran penyakit di pengungsian terus membayangi.