Fenomena ini bukan soal mahasiswa yang anti-teknologi. Smith, yang juga menjabat sebagai vice chairman Microsoft, menilai reaksi negatif ini sebagai sinyal bahwa ada yang salah dengan narasi besar industri soal AI. Dalam sebuah pernyataan baru-baru ini, ia mendesak para eksekutif teknologi untuk menganggap serius penolakan tersebut, terutama karena generasi muda selama ini selalu menjadi kelompok paling antusias dalam mengadopsi teknologi baru.
Bukan Sekadar Kecemasan Biasa, Ini Soal Nasib Pekerjaan
Kecemasan ini bukannya tanpa dasar. Beberapa pemimpin AI paling vokal di Silicon Valley justru memproyeksikan skenario yang suram. CEO Anthropic, Dario Amodei, pernah menyatakan bahwa dalam lima tahun ke depan, setengah dari pekerjaan entry-level kerah putih akan lenyap digantikan oleh LLM dan chatbot. Lebih ekstrem lagi, kepala divisi AI Microsoft, Mustafa Suleyman, meramalkan bahwa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, "sebagian besar" pekerjaan kerah putih akan diambil alih AI.
Di sinilah letak pergeseran yang menurut Smith harus menjadi perhatian serius. Lulusan baru tidak buta terhadap manfaat AI. Mereka justru ingin memiliki kendali penuh atas sejauh mana teknologi ini boleh masuk ke dalam hidup mereka. "Mereka menginginkan kuasa atas chatbot, bukan sebaliknya," tulis Smith.
Smith Coba Menghidupkan Kembali "American Dream"
Menariknya, Smith mencoba merangkai ulang narasi ini dengan konsep yang lebih klasik. Ia menyebutkan bahwa martabat pekerjaan selalu memberikan makna dan tujuan dalam hidup. Ini adalah upaya untuk mengembalikan diskusi ke ranah yang lebih manusiawi, jauh dari euforia efisiensi yang kerap didengungkan para CEO AI.
"Kepada mereka di sektor teknologi yang seolah ingin mengejar masa depan di mana komputer menggantikan pekerjaan dan AI menjadi lebih mampu dari manusia, generasi berikutnya telah memberikan respons yang tegas: 'jangan terburu-buru,'" kata Smith dalam unggahannya.
Perubahan Nada Bicara Raksasa Teknologi
Sikap Microsoft ini mencerminkan perubahan nada yang lebih luas di kalangan eksekutif AI. Setelah bertahun-tahun bicara soal "revolusi" dan "pemusnahan pekerjaan", kini mereka mulai mengubah pesan. Kini, argumen yang lebih sering terdengar adalah bahwa AI akan membuat pekerja menjadi lebih produktif dan efisien, bukan menggantikan mereka sepenuhnya.
Smith sendiri masih percaya bahwa AI adalah lompatan evolusioner yang akan berdampak besar pada individu dan organisasi. Namun, ia juga menegaskan bahwa Microsoft akan memainkan peran besar dalam transformasi ini—sama seperti yang dilakukan perusahaan itu pada era revolusi komputer pribadi. "Pekerja adalah sumber kehidupan Microsoft sejak awal. Jika rakyat dunia tidak punya pekerjaan, kami juga tidak akan punya," pungkasnya.