PADANG — Perahu-perahu nelayan di Banjir Kanal Air Tawar, Padang, kini terlihat terdampar di atas hamparan lumpur. Bukan karena air surut biasa, melainkan akibat sedimentasi massal yang belum tertangani sejak bencana banjir bandang tujuh bulan lalu.
Pendangkalan sungai terjadi di sepanjang aliran yang menjadi akses utama nelayan menuju laut. Lumpur mengendap tidak hanya di tepi, tetapi juga mengisi dasar sungai hingga perahu-perahu bermesin tempel pun kesulitan melintas.
Akses ke Laut Terhambat Lumpur Tebal
Para nelayan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari tangkapan ikan kini harus berjuang ekstra. Mereka terpaksa memperbaiki perahu di atas sungai yang nyaris menjadi daratan lumpur.
"Kalau air surut, perahu sama sekali tidak bisa jalan. Mesin tempel mentok di lumpur," ujar seorang nelayan setempat yang enggan disebutkan namanya.
Banjir Bandang Tujuh Bulan Lalu Tinggalkan Endapan
Bencana banjir bandang yang melanda Padang beberapa bulan lalu membawa material lumpur dan pasir dalam volume besar. Material itu mengendap di kanal dan sungai, termasuk di Banjir Kanal Air Tawar yang menjadi jalur lalu lintas nelayan.
Hingga saat ini, belum ada upaya pengerukan atau normalisasi sungai secara signifikan di titik-titik kritis tersebut. Nelayan mengaku sudah melaporkan kondisi ini ke pihak kelurahan dan dinas terkait, namun belum ada tindak lanjut.
Pendapatan Nelayan Terpangkas
Akibat pendangkalan, nelayan hanya bisa melaut saat air laut pasang tinggi. Waktu melaut pun menjadi terbatas, tidak lagi setiap hari seperti sebelumnya.
Beberapa nelayan di Ulak Karang Utara mengaku pendapatan mereka turun drastis. Biaya operasional untuk bahan bakar tetap keluar, tetapi hasil tangkapan tidak maksimal karena waktu melaut yang pendek.
"Dulu bisa dua kali melaut sehari. Sekarang sekali pun susah, harus nunggu air naik dulu," kata seorang nelayan lainnya.
Pemkot Padang Diminta Segera Normalisasi
Nelayan berharap Pemerintah Kota Padang segera turun tangan. Pengerukan sedimentasi di Banjir Kanal Air Tawar dinilai mendesak, bukan hanya untuk kelancaran melaut, tetapi juga untuk mencegah banjir susulan saat musim hujan tiba.
Jika tidak segera ditangani, pendangkalan diprediksi semakin parah. Musim penghujan berikutnya berpotensi membawa material baru dan memperburuk akses nelayan ke laut.