Bunda Lingkungan Hidup Kabupaten Solok Canangkan Program 1 Rumah 1 Komposter di Alahan Panjang, Target Kurangi Sampah Organik dari Sumbernya

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:45:31 WIB
Bunda Lingkungan Hidup Kabupaten Solok mencanangkan Program 1 Rumah 1 Komposter di Nagari Alahan Panjang, Senin (10/8/2026).

AROSUKA — Langkah konkret pengelolaan sampah berbasis rumah tangga mulai digaungkan di Kabupaten Solok. Pencanangan Program 1 Rumah 1 Komposter berlangsung di Nagari Alahan Panjang, Senin (10/8/2026), dan dihadiri Kepala OPD, Camat Lembah Gumanti, serta unsur terkait dan masyarakat setempat.

Program ini menyasar kebiasaan warga dalam memilah sampah sejak dari dapur. Alih-alih mencampur seluruh limbah, sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan diarahkan untuk diolah mandiri menjadi kompos yang bernilai guna bagi tanaman.

Membangun Kebiasaan Memilah Sampah dari Rumah

Ny. Nia Jon Firman Pandu menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Peran aktif setiap keluarga menjadi kunci utama dalam rantai pengelolaan limbah.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah. Dengan adanya satu komposter di setiap rumah, kita berharap sampah organik tidak lagi seluruhnya dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna,” ujarnya dalam sambutannya.

Ia menambahkan, keberhasilan inisiatif ini tidak diukur dari banyaknya komposter yang dibagikan, melainkan dari konsistensi warga dalam memilah, mengolah, dan mengurangi sampah harian. Menurutnya, budaya peduli lingkungan harus dibangun secara kolektif.

Dampak untuk Pertanian dan Kebersihan Lingkungan

Selain mengurangi beban pembuangan akhir, hasil kompos dari program ini dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman pekarangan. Bagi warga Alahan Panjang yang berprofesi sebagai petani, pupuk organik mandiri ini berpotensi menekan biaya produksi.

“Ini bukan hanya tentang komposter, tetapi tentang membangun budaya peduli lingkungan. Kalau dimulai dari satu rumah, kemudian dilakukan oleh seluruh rumah, insyaallah dampaknya akan besar bagi kebersihan dan kelestarian lingkungan Kabupaten Solok,” tambah Ny. Nia.

Nagari Alahan Panjang Jadi Percontohan Pertama

Pemilihan Alahan Panjang sebagai lokasi pencanangan menjadi titik awal penyebaran program ke nagari-nagari lain. Pemerintah kabupaten berharap gerakan ini mampu mengubah paradigma warga dari sekadar membuang sampah menjadi mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.

Dengan adanya satu komposter aktif di tiap rumah, volume sampah organik yang terbuang ke lingkungan diharapkan berkurang signifikan. Target akhirnya adalah lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan nyaman di seluruh wilayah Kabupaten Solok.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: lintastiga.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top