AGAM — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Kabupaten Agam mencapai 90,76 poin pada 2025. Angka ini mengalami kenaikan 0,56 poin dibandingkan tahun sebelumnya dan naik 3,11 poin dalam lima tahun terakhir.
IKK merupakan indeks harga yang menggambarkan tingkat kemahalan konstruksi suatu kabupaten/kota dibandingkan dengan harga di kota acuan, yakni Kota Surabaya. Semakin tinggi angka IKK, semakin mahal pula biaya pembangunan sebuah bangunan di wilayah tersebut.
Dengan capaian 90,76 poin, Kabupaten Agam menempati urutan terendah ke-4 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Artinya, biaya konstruksi di Agam masih relatif lebih murah dibandingkan mayoritas daerah lain di provinsi tersebut.
Berikut daftar 5 kabupaten/kota dengan IKK terendah di Sumatera Barat pada 2025:
Sebaliknya, Kabupaten Kepulauan Mentawai mencatatkan IKK tertinggi di Sumatera Barat dengan 117,65 poin. Disusul Kabupaten Dharmasraya (97,3 poin), Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung (94,68 poin), Kota Padang (94,41 poin), dan Kota Sawahlunto (94,3 poin).
Selisih IKK antara Agam dan Kepulauan Mentawai mencapai 26,89 poin. Kondisi ini mengindikasikan disparitas harga material dan upah kerja konstruksi yang cukup lebar antar daerah di Sumatera Barat.
IKK sering digunakan sebagai salah satu komponen dalam perhitungan indeks harga perdagangan besar dan bahan bangunan. Bagi pemerintah daerah, data ini menjadi bahan evaluasi untuk memperkirakan kebutuhan anggaran proyek fisik, baik yang bersumber dari APBD maupun dana transfer pusat.
Kenaikan IKK Agam yang konsisten dalam lima tahun terakhir sejalan dengan tren kenaikan harga bahan bangunan secara nasional. Meski begitu, posisi Agam yang berada di bawah rata-rata provinsi menunjukkan daya saing biaya konstruksi yang masih kompetitif.
Publikasi BPS mengenai IKK Provinsi dan Kabupaten/Kota 2025 ini menjadi rujukan bagi pemangku kepentingan, termasuk kontraktor dan investor, dalam menyusun rencana pembangunan di wilayah Agam dan sekitarnya.