SUMATERA BARAT — Sepanjang pekan terakhir Juli, mata uang Garuda beberapa kali menguji level psikologis Rp18.100 per dolar AS. Data pasar menunjukkan rupiah ditutup di Rp18.100 pada 28 Juli, melemah ke Rp18.108 pada 29 Juli, dan mencapai level terlemah di Rp18.111 pada 30 Juli. Namun, tekanan tersebut mereda di akhir pekan dengan penutupan menguat 89 poin.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai dalam jangka pendek rupiah cenderung bertahan di bawah level Rp18.500 per dolar AS. Menurutnya, meskipun faktor eksternal masih menjadi pemicu utama pelemahan, beberapa perkembangan justru mengurangi tekanan terhadap dolar AS.
"Faktor utama masih dari eksternal, harga minyak dunia dan prospek suku bunga The Fed. Namun kalau melihat perkembangan belakangan ini, minyak walau masih tinggi, namun cukup stabil dan data ekonomi AS yang kemarin dirilis sangat negatif bagi dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Jumat (31/7).
Data ekonomi AS yang berada di bawah ekspektasi pasar membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS menurun, sehingga mengurangi daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi ini menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk sementara waktu.
Di sisi lain, pengamat pasar uang Ariston Tjendra memiliki pandangan berbeda. Ia menilai peluang rupiah untuk merosot ke level Rp18.500 per dolar AS masih terbuka lebar. Menurut Ariston, kecepatan pelemahan akan sangat bergantung pada dua variabel utama: respons pemerintah terhadap kebijakan yang disorot pelaku pasar dan eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Ariston menjelaskan, jika konflik geopolitik kembali memicu lonjakan harga energi dan inflasi global, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan. Skenario ini dapat memperkuat indeks dolar AS dan memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.
"Kecepatannya tergantung sejauh mana pemerintah menanggapi isu program-program yang disorot pasar dan situasi perang Iran-AS yang bisa mendorong kenaikan suku bunga acuan AS," pungkasnya.
Selain faktor global, persepsi investor terhadap fundamental ekonomi domestik menjadi penentu utama arah rupiah. Ariston menekankan bahwa menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan fiskal dan moneter yang kredibel menjadi faktor penting untuk meredam gejolak nilai tukar.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati langkah pemerintah dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta komunikasi kebijakan Bank Indonesia (BI) di tengah volatilitas pasar keuangan global. Jika respons kebijakan dianggap cepat dan tepat, tekanan jual terhadap rupiah dapat diminimalkan.
Investasi mengandung risiko.