SUMATERA BARAT — Prabowo menegaskan bahwa jumlah BUMN yang terlalu besar justru rawan disalahgunakan. "Dan itu adalah cara mereka untuk sembunyi, sembunyiin uang negara, sembunyiin uang rakyat," ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Jumat (3/7/2026).
Target pemangkasan drastis ini menyasar BUMN yang dinilai tidak sehat, tidak memiliki daya saing, atau hanya menjadi beban anggaran. Presiden menginstruksikan Kementerian BUMN dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mempercepat proses restrukturisasi dan likuidasi.
Di tengah agenda penutupan massal itu, BPI Danantara justru mulai mempublikasikan capaian kinerja sejumlah BUMN. Dalam siaran pers yang dirilis Kamis (2/7/2026), Danantara menyebut beberapa perusahaan pelat merah mencatatkan pertumbuhan laba yang impresif pada periode April 2025 hingga April 2026.
Managing Director Stakeholders Management and Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas, mengatakan masih banyak BUMN lain yang juga menunjukkan perkembangan positif. "Di luar entitas yang ditampilkan, masih terdapat berbagai BUMN lain yang juga mencatatkan perkembangan kinerja positif dan terus menjadi bagian dari agenda transformasi berkelanjutan," kata Rohan.
Rilis ini keluar di tengah tekanan publik yang menyoroti keterlambatan Danantara dalam melaporkan laporan keuangan konsolidasian lembaga pengelola investasi negara tersebut. Menanggapi hal itu, Rohan menegaskan laporan keuangan konsolidasian masih dalam proses audit sesuai ketentuan perundang-undangan. "Akan disampaikan setelah seluruh proses audit sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," tegasnya.
Meski belum merilis laporan keuangan gabungan, Danantara telah bergerak melakukan investasi strategis. Salah satunya adalah pengembangan ekosistem Haji dan Umrah Indonesia di Makkah. Selain itu, Danantara juga mendukung program waste-to-energy untuk pengelolaan sampah berkelanjutan di dalam negeri.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa meskipun ribuan BUMN akan ditutup, pemerintah tetap mengarahkan Danantara sebagai kendaraan investasi yang fokus pada proyek-proyek strategis bernilai besar. Pertamina, PLN, BRI, dan Telkom disebut-sebut menjadi tulang punggung yang akan tetap dipertahankan dan diperkuat.
Dengan target penutupan 800 BUMN dalam waktu kurang dari setahun, pemerintah menghadapi pekerjaan rumah besar: memastikan proses likuidasi tidak mengganggu layanan publik dan rantai pasok nasional, sekaligus menjaga stabilitas ketenagakerjaan di sektor pelat merah.