SUMATERA BARAT — Perbedaan ini penting dicermati oleh pelaku usaha yang rutin melakukan impor bahan baku, investor yang menempatkan dana di instrumen valas, maupun masyarakat yang hendak menukarkan uang untuk biaya pendidikan atau perjalanan ke luar negeri. Setiap bank menerapkan struktur kurs yang berbeda berdasarkan jenis layanan transaksi, mulai dari digital banking hingga penukaran tunai di counter.
Bank Central Asia (BCA) menawarkan tiga jenis kurs pada hari ini. Untuk transaksi melalui e-banking, BCA memasang kurs beli di Rp18.045 per dolar AS dan kurs jual di Rp18.065. Selisihnya hanya Rp20, menjadikan e-Rate pilihan paling efisien bagi nasabah yang bertransaksi digital.
Sementara itu, untuk transaksi melalui teller (TT Counter) dan penukaran uang tunai (Bank Notes), BCA mematok kurs beli Rp17.875 dan kurs jual Rp18.150 per dolar AS. Artinya, nasabah yang menjual dolar tunai di kantor cabang hanya akan menerima Rp17.875 per dolar, sedangkan yang membeli dolar tunai harus membayar Rp18.150. Selisih jual-beli di layanan ini mencapai Rp275.
Bank Mandiri menyediakan Special Rate khusus untuk transaksi valas bernilai besar. Kurs beli ditetapkan Rp18.070 dan kurs jual Rp18.100 per dolar AS. Angka ini lebih menguntungkan dibandingkan kurs TT Counter dan Bank Notes yang sama-sama dipatok di Rp17.830 (beli) dan Rp18.130 (jual).
Nasabah yang hendak memanfaatkan Special Rate disarankan menghubungi kantor cabang terlebih dahulu karena kurs final dapat disesuaikan dengan nominal transaksi dan kondisi pasar saat itu.
Bank Negara Indonesia (BNI) menawarkan Special Rate dengan kurs beli Rp18.050 dan kurs jual Rp18.080 per dolar AS. Untuk transaksi di counter teller dan penukaran uang tunai, BNI mematok kurs beli Rp18.060 dan kurs jual Rp18.140. Pola ini berbeda dengan BCA dan Mandiri yang justru memberikan kurs lebih rendah di layanan tunai dibandingkan digital.
BNI menegaskan bahwa seluruh kurs yang ditampilkan bersifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar valas pada saat transaksi berlangsung.
Perbedaan ini muncul karena setiap bank memiliki kebijakan pricing yang disesuaikan dengan biaya operasional, target margin, serta segmen nasabah yang dilayani. Special Rate, misalnya, diberikan untuk transaksi dengan nominal besar karena biaya per unit lebih rendah. Sebaliknya, Bank Notes dan TT Counter mencerminkan biaya penanganan uang tunai dan layanan tatap muka yang lebih tinggi.
Bagi masyarakat yang hanya bertransaksi dalam jumlah kecil melalui aplikasi mobile banking, membandingkan e-Rate antarbank menjadi langkah sederhana namun berdampak langsung pada jumlah rupiah yang diperoleh. Selisih Rp20 hingga Rp200 per dolar, jika dikalikan dengan nominal transaksi, bisa berarti penghematan atau tambahan biaya yang signifikan.