SUMATERA BARAT — Kebun Gizi Rawajaya dikelola oleh 20 anggota Kelompok Rawa Jaya di RPTRA Rawa Jaya, Kelurahan Pondok Kopi. Hasil panen tak cuma dijual segar. Cabai merah, misalnya, diolah menjadi Boncara (Bon Cabe Powder) dan sambal kemasan. Jagung, pakcoy, dan bawang merah juga dipanen rutin untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal.
“Kami merasakan banyak manfaat dari pemanfaatan lahan RPTRA sebagai kawasan urban farming. Selain membantu memenuhi kebutuhan sayuran masyarakat, hasil panen juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok,” ujar Sumi, anggota Kelompok Rawa Jaya.
Program ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Sisa panen yang tidak terpakai tidak dibuang, melainkan diolah menjadi pupuk kompos. Pupuk itu kembali digunakan untuk menyuburkan lahan Kebun Gizi Rawajaya. Siklus ini membuat produksi pertanian terus berjalan tanpa bergantung pada pupuk kimia dari luar.
Pendekatan ini dinilai lebih ramah lingkungan dan bisa menjaga ketahanan pangan warga dalam jangka panjang. Lahan yang subur secara alami berarti biaya produksi bisa ditekan, dan hasil panen tetap optimal.
Sumi berharap Pertamina tidak berhenti mendampingi kelompoknya. “Kami berharap pendampingan dari Pertamina dapat terus berlanjut sehingga program ini semakin berkembang dan menghasilkan lebih banyak produk inovatif dari hasil panen lokal,” katanya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional JBB, Susanto August Satria, menegaskan bahwa program ini adalah wujud komitmen perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat. “Melalui pengelolaan lahan produktif berbasis urban farming, kami berharap masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di lingkungan sekitar,” ujar Satria.
Ke depan, Pertamina membuka peluang untuk memperluas program serupa ke titik-titik RPTRA lain di Jakarta. Model Kebun Gizi Rawajaya dinilai bisa direplikasi di daerah padat penduduk yang lahannya terbatas.