Refleksi Satu Abad Gempa Padang Panjang 1926, PJKIP Dorong Budaya Siaga Bencana di 16 Kelurahan

Penulis: Zulkifli Arief  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 16:56:46 WIB
PJKIP menggelar FGD refleksi satu abad gempa Padang Panjang 1926 dengan partisipasi berbagai elemen masyarakat.

PADANG PANJANG — Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai refleksi satu abad gempa Padang Panjang 1926, Rabu (13/5/2026). Diskusi ini menghadirkan Plt. Kepala BPBD Kesbangpol Dian Eka Purnama serta diikuti unsur KNPI, Karang Taruna, Kelompok Siaga Bencana (KSB) dari 16 kelurahan, PMI, SAR, relawan, dan insan pers.

Enam Ancaman Bencana yang Mengintai Warga

Dalam pemaparannya, Dian Eka Purnama menyebutkan enam potensi bencana yang mengancam wilayah Padang Panjang. Ancaman itu meliputi gempa bumi, banjir, banjir bandang, tanah longsor, bencana gunung api, dan cuaca ekstrem.

“Bencana tidak mengenal waktu. Karena itu kita harus terus membangun kesiapsiagaan agar masyarakat mampu meminimalkan risiko dan selamat saat bencana terjadi,” ujarnya.

Pemerintah Kota Sudah Selesaikan Kajian Risiko Bencana

Pemerintah Kota Padang Panjang telah menyelesaikan Kajian Risiko Bencana (KRB). Saat ini, pemda juga tengah menuntaskan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) dan Rencana Kontijensi sebagai penguatan sistem penanganan bencana daerah.

Penanganan kebencanaan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Seluruh elemen masyarakat harus ikut terlibat dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini.

Patahan Semangko dan Pelajaran dari 1926

Ketua PJKIP Padang Panjang Rifnaldi menegaskan, tragedi gempa besar 1926 bukan sekadar peristiwa seremoni. Menurutnya, peringatan satu abad gempa harus menjadi momentum refleksi karena Padang Panjang berada di kawasan rawan bencana.

Wilayah ini dilintasi Patahan Semangko Segmen Sianok dan Singkarak yang berpotensi memicu gempa bumi. Edukasi mitigasi dan kesiapan masyarakat dinilai harus terus diperkuat.

“Bencana tidak pernah memberi tahu kapan datangnya. Karena itu, kewaspadaan, edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan diri,” tegas Rifnaldi.

Target: Menumbuhkan Budaya Siaga di 16 Kelurahan

Melalui FGD ini, PJKIP berharap kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana semakin meningkat. Kegiatan ini juga menargetkan tumbuhnya budaya siaga bencana di tengah masyarakat, termasuk pemahaman langkah penyelamatan diri saat situasi darurat.

Peristiwa gempa besar yang terjadi hampir satu abad lalu dinilai masih relevan dijadikan pelajaran. Penguatan kesiapan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang menjadi prioritas utama. (*)

Reporter: Zulkifli Arief
Sumber: sumbardaily.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top