PADANG — Kota Padang tidak melulu soal nasi kapau atau gulai. Di sudut-sudut kota, warung sate yang eksis sejak era 1970-an masih setia menyajikan tusukan daging sapi dan jeroan yang dibakar di atas bara api. Kuah kental berwarna kuning kecokelatan hingga kemerahan menjadi ciri khas yang membedakan satu warung dengan warung lainnya.
Dari penelusuran berbagai sumber, setidaknya ada tujuh tempat yang namanya melegenda dan masih ramai dikunjungi hingga kini. Masing-masing punya keunikan tersendiri, mulai dari resep turun-temurun hingga varian daging yang tidak biasa.
Sate Itjap di Jalan Rasuna Said No. 98 sudah berdiri lebih dari 50 tahun. Pendirinya, Pak Itjap, memulai usaha dengan gerobak keliling sebelum akhirnya memiliki lokasi tetap. Menu yang tersedia bervariasi: daging sapi, lidah, jeroan, hingga campuran.
Keistimewaan sate ini terletak pada penyajiannya yang menggunakan daun pisang. Aroma khas daun pisang bercampur dengan siraman kuah kental panas. Taburan bawang goreng renyah dan kerupuk melengkapi sensasi kriuk di setiap gigitan.
Berlokasi di Jalan Jati Baru, Padang Timur, Sate Pono sudah menjadi menu wajib bagi banyak pendatang. Daging sapi pilihan dibakar hingga empuk dan juicy, lalu disiram kuah kental berwarna kuning kecokelatan yang kaya rempah. Tekstur kuahnya gurih, lembut, dan beraroma kuat, menyatu sempurna dengan tusukan sate yang baru diangkat dari bara api. Porsi yang ditawarkan pun beragam dengan harga terjangkau.
Sate Mega memulai perjalanannya di Pasar Lubuk Buaya sejak 1975. Kini, usaha turun-temurun keluarga ini sudah memiliki enam outlet yang tersebar di Kota Padang. Ciri khasnya terletak pada kuah berwarna kuning keabu-abuan, berbeda dari sate Padang lainnya. Kuah tersebut dibuat dari racikan bawang merah, bawang putih, dan kunyit yang dimasak dengan kaldu sapi, lalu dikentalkan dengan tepung beras.
Berdiri sejak 2010 di Jalan Jhoni Anwar No. 10, Kampung Lapai, Kecamatan Nanggalo, Sate Siman berawal dari gerobak keliling. Keunggulannya adalah kuah khas Pariaman yang berwarna merah. Tidak seperti kebanyakan sate lain yang hanya menggunakan daging sapi, Sate Siman menyediakan varian daging ayam, ceker ayam, lokan, telur puyuh, tahu, dan hati. Pembeli bisa memilih sesuka hati dengan harga yang sama.
Sate KMS didirikan oleh M. Rusli dan Yusnimar pada 1984. Kini, outletnya tersebar di beberapa lokasi seperti Jalan Permindo, Patimura, Simpang Kalawi, dan Siteba. Bumbu sate ini memiliki rasa unik berkat penggunaan rempah berkualitas tinggi yang dikombinasikan dengan teknik memasak teruji. Kuahnya berwarna cokelat kemerahan dan memiliki ciri khas: banyak menggunakan daun bawang dan seledri yang sudah ditumis hingga kehitaman, bercampur dengan yang masih hijau segar.
Kelima tempat ini, bersama dua sate legendaris lainnya yang masih eksis, membuktikan bahwa tradisi kuliner Sate Padang tidak pernah pudar. Bagi yang baru pertama kali berkunjung ke Padang, mencicipi sate dari salah satu warung ini bisa menjadi pengalaman yang sama pentingnya dengan mencoba rendang.